Mari kita pikirkan sejenak, saat seseorang melakukan kesalahan kepada kita, apa yang biasa kita lakukan? Marah? Emosi? Benci? Atau yang lainnya....semua itu adalah hal yang wajar. Karena kita adalah manusia. Tahukah teman-teman akibat dari kesalahan seseorang yang dilakukan kepada kita, baik dalam bentuk fisik dan lainnya?. Kita tanpa sadar, mendapatkan pelajaran berharga. Kita belajar bagaimana menentukan sikap, belajar sabar, berpikir dan mencerna dari kesalahanya. Hingga akhirnya kita menjadi orang yang bisa mengolah sikap dimanapun kita berada.
Namun, kita sering tak mengetahui akan hal ini. Karena kemarahan kita menutup segalanya dan membuka gerbang lara. Satu hal yang harus kita tahu, kebencian kita terhadap seseorang tak akan pernah menyakiti orang yang kita benci, justru perasaan itu sendiri yang akan menyakiti kita. Sadari, apa yang keluar dari mulut kita saat kita marah karena sepatu kita kotor akibat terinjak oleh teman. ”eh.....liat2 dong kalau jalan”. Itu sebagian kecil contoh. Namun, hitung waktu anda untuk memarahi dia, berapa lama, belum lagi jika kemarahan itu kita simpan dalam hati. Dan terkadang harus di tambah, karena saking marahnya, kita harus memalingkan muka, menghindar...dan ah.....Berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk semua itu? Dan hal ini semua, masih sering terabaikan dari benak kita...
Mari kita perhatikan hadits Imam Hakim dan Baihaqi di bawah ini;
Diceritakan dari Anas r.a. ia berkata: ketika kami berkumpul dengan Rasulullah s.a.w. tiba-tiba beliau tersenyum hingga tampak gigi depannya. Umar bin Khatab kemudian bertanya; ”Ya Rasulullah, apa yang membuatmu tersenyum?” beliau mejawab: ”Ada dua orang umatku yang berlutut di hadapan Allah, lalu salah satunya berkata; ”Ya Allah, biarkan kesalahan saudaraku yang pernah diperbuatnya kepadaku aku yang menanggungnya. Jangan Engkau bebankan kepadanya, ya Allah”
Allah berfirman; ”Bagaimana kau bisa berbuat demikian, sementara kau sendiri tak punya kebaikan sedikitpun”
Hamba itu menjawab, ”Ya Allah, hari ini hari yang agung; saat setiap orang mengharapkan kesalahan dan kejahatannya ada yang menanggungnya.”
Allah berfirman kembali; ”Angkatlah penglihatanmu wahai hamba, lihatlah di sana!”
Hamba itu lalu mengangkat pandangannya dan berkata, ”Ya Allah, aku melihat logam-logam emas berkilauan. Untuk anbi yang mana atau untuk orang syahid yang mana tempat ini, ya Allah?”
”Tempat ini bagi mereka yang membeli harganya” Firman-Nya
”Ya Allah, siapakah yang dapat membelinya?” Tanya hamba itu
Allah berfirman; “Kau dapat membelinya”
“Aku? Dengan apa aku dapat membelinya“ tanya ia terheran.
“Dengan memafkan dos dan kesalah saudaramu“
“Ya Allah, bagaimana dengan kesalahan saudaraku ini. Bukankan kesalahannya telah aku maafkan?“
“Kalau begitu, masuklah kau dan saudaramu ini kesurga yang tadi aku tunjukkan.“
Subhanallah......Sekarang, masihkah kita membenci mereka yang berbuat salah? Masihkah kita berlaga kita paling benar, bersikap keras dan acuh? Padahal, Nabi menjelaskan:
إِنّ اللهَ رَفِيْقُ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِيْ عَلَى الرِّفْقَ مَالاً لاَ يُعْطِيْ عَلَى العُنْفِ، وَمَا لاَ َيُعْطِيْ عَلَى مَا سِوَاهُ (رواه مسلم)
Sesungguhnya Allah itu lemah lembut dan mencintai kelembutan. Allah akan memberikan anugerah kepada kelembutan yang tidak diberikan kepada kekerasan, dan perkara yang tidak diberikan kepada yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar