Minggu, 29 Agustus 2010

al-islam بسم الله الرحمن الرحيم

Apa Makna Memaafkan?



Sebelum memasuki bulan suci Ramadhan saya suka mengirimkan atau banyak mendapatkan email maupun sms dari teman2 ucapan mohon maaf lahir batin. Mohon maaf merupakan tanda cinta dan kasih sayang kita sebagai sesama saudara. Namun memaafkan juga indah dan menenteramkan di dalam hati kita. Lantas pertanyaannya, 'Apa makna memaafkan?'

Memaafkan adalah gerbang kedamaian dan ketenteraman dalam hidup kita. Pintu gerbang itu kecil sekaligus sempit dan hanya bisa dimasuki dengan menundukkan kepala kita. Tidak mudah untuk menemukannya namun bila kita sungguh-sungguh untuk mencarinya maka kita akan menemukannya. Memaafkan hampir tidak pernah kita temukan dalam keadilan hidup di dunia, yang memaksa kita agar membalas sakit dengan sakit, memaafkan hanya kita akan temukan bila kita mampu menyingkirkan rasa sakit.

Disaat kita memaafkan seseorang untuk tindakan yang menyakitkan, kita terkadang masih bisa menghargainya namun bila teringat rasa sakit malah mengobarkan kebencian yang kita tumpahkan dengan menyerang. Bila kita lihat lebih mendalam dengan memperbaiki hubungan dengan orang tersebut, barangkali memaafkan tidak bisa menghilangkan luka dihati namun tindakan memohon maaf akan menghilangkan perangkap spiral kebencian yang terjadi terus menerus. Memaafkan juga menjaga diri kita dan keluarga kita agar kita tidak melampiaskan marah dan menyakiti orang lain.

Bila kita tersakiti maka kita akan selalu mengingat kesalahan orang lain, rasa sakit itu berubah menjadi benci. Tidak peduli penyebab luka itu apakah benar-benar ada atau tidak, secara perlahan luka itu menggerus hati kita kemudian keluar dari tubuh kita dan merusak sekitar, orang-orang disekeliling kita untuk menyebarkan kebencian. Kita semua tahu bahwa bila kita terserang rasa kebencian. Maka kita memiliki ingatan yang luar biasa sampai hal terkecil yang dibencinya juga masih diingatnya. daftar panjang dimilikinya karena ruang hatinya menjadi penuh sesak dengan kebencian, tidak menyisakan ruang untuk cinta dan kasih sayang. Memaafkan dan memohon maaf berarti membersihkan diri dari segala kotoran hati seperti kebencian, kemarahan, dengki dan rasa sakit. Sehingga ruang hati kita tumbuh semangat dan motivasi hidup yang positif serta kasih sayang bagi sesama. Makna mohon maaf dan memaafkan keduanya sama-sama indah karena perbuatan baik dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. sebagaimana firman-Nya.

'Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali- Imran : 134).

Indahnya Saling Memaafkan Sebelum Ramadhan


Sepulang dari shalat berjamaah di masjid, Ramadhan tidak seperti biasanya langsung makan, tapi mengajak istri dan kedua putra putrinya untuk berkumpul di ‘Mihrab Tahajjud’ (sebuah ruang 2,5 X 2,5 m berada di sudut ruang keluarga, tempat shalat keluarga , disebut mihrab tahajud karena Ramadhan melakukan tahajud dan shalat sunat lainnya di ruangan itu)

“Ayo bu, Zati, Abdi, berkumpul dulu disini..”Ajak Ramadhan “ O..Ya… mana mba Min…” lanjutnya

“Min… dipanggil Bapak …”Hasanah memanggil mba mintarsih , dan mba Min pun datang ngan segera

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh….., besok kita akan memulai menjalanan ibadah puasa, seperti biasa, agar kita mendapatkan nilai ibadah yang lebih baik, mari kita saling membersihkan diri dari semua yang mengganjal di hati kita masing-masing dan saling memaafkan.

Semuanya term mendengarkannya

“Sekarang Ayah mau minta maaf sama ibu, Maafkan ayah yaa bu…lahir dan bathin, selama ini ayah suka bikin ibu kesel, ngedumel, bahkan marah, tidak ada maksud ayah sengaja untuk berbuat seperti itu, itulah ayah yang tak terlepas dari kekurangan dan kebodohan…. Sekali lagi maafin ayah yaa bu, bersihkan semuanya… “Ramadhan menyodorkan kedua tangannya ke istrinya, Hasanahpun menyambutnya dengan segera dan seraya menciumnya.

“Ibu yang seharusnya mohon maaf terlebih dahulu sama ayah, ibu yang sering membuat ayah kesel, kadang tidak dapat menerima apa yang ayah dapat, banyak merepotkan ayah dengan segala permintaan, ibu sering cemberut krtika ayah pulang kerja, maafin ibu yah….” Hasanah tak kuasa berderai air mata

“Insya Allah… Ayah bersihin semuanya dari hati, tanpa sisa, he he he….”Ramadhan mencoba mengangkat suasana hangat.

“Ibu nanis…ya ? Koq nanis cih…? Tanya abdi yg baru berusia 2,5 tahun memandang ibunya dan langsung memeluknya. Hasanah memeluknya erat penuh kasih sayang

“Yah… Zati juga minta maaf, suka marah sama ayah kalau Zati minta uang ngga di kasih, Zati juga suka nyuruh-nyuruh ayah…..dan”Zati mengambil tangan ayahnya dan menciumnya sambil sedikit tersedu.

“Iyah semuanya Ayah maafin… ayo sama ibu juga, dan diapun melakukan hal yg sama kepada ibunya.

“Aku duda mita maaf ibu…..” abdi ikut-ikutan

“Iyah ibu maafin nak …” sambil menciumnya berulang-ulang

“Nah sekarang sama mba,….. Mba Min, saya atas nama keluarga mohon maaf bila ada sikap dan ucap kami yang membuat hati mba Min sakit, sengaja maupun tidak disengaja, tidak ada niatan kami untuk membuat mba Min sakit, maafin ya mba…”

“Sama-sama pak, mba yang mohon maaf dari kebodohan dan segala kesalahan mba”

“Pokoknya hari ini rumah kita semuanya sudah bersih, hati kita sudah bersih…… semuanya dimaafkan “

“Nah semoga keikhlasan kita untuk saling memaafkan , akan menambah nilai ibadah kita dihadapan Allah, dan kebersihan hati untuk menerima Rahmat-Nya….. amiiin “

“Amiin ……..”semuanya serempak mengucapkannya

“Nah sekarang mari kita makan, udah siap mba ?” Tanya Ramadhan

“Sudah pak…”

Merekapun makan malam bersama dengan hati yang lebih lapang, lebih luas dan lebih bersih, ringan tanpa beban…………. sambil menunggu datangnya Shalat sunat Terawih.

Sabtu, 28 Agustus 2010

Saling Memaafkan itu Indah

Pembaca yang budiman, apa yang tersirat saat membaca judul di atas? Dalam benak kita pasti akan terbersit bahwa memaafkan itu memang indah.

Mari kita pikirkan sejenak, saat seseorang melakukan kesalahan kepada kita, apa yang biasa kita lakukan? Marah? Emosi? Benci? Atau yang lainnya....semua itu adalah hal yang wajar. Karena kita adalah manusia. Tahukah teman-teman akibat dari kesalahan seseorang yang dilakukan kepada kita, baik dalam bentuk fisik dan lainnya?. Kita tanpa sadar, mendapatkan pelajaran berharga. Kita belajar bagaimana menentukan sikap, belajar sabar, berpikir dan mencerna dari kesalahanya. Hingga akhirnya kita menjadi orang yang bisa mengolah sikap dimanapun kita berada.

Namun, kita sering tak mengetahui akan hal ini. Karena kemarahan kita menutup segalanya dan membuka gerbang lara. Satu hal yang harus kita tahu, kebencian kita terhadap seseorang tak akan pernah menyakiti orang yang kita benci, justru perasaan itu sendiri yang akan menyakiti kita. Sadari, apa yang keluar dari mulut kita saat kita marah karena sepatu kita kotor akibat terinjak oleh teman. ”eh.....liat2 dong kalau jalan”. Itu sebagian kecil contoh. Namun, hitung waktu anda untuk memarahi dia, berapa lama, belum lagi jika kemarahan itu kita simpan dalam hati. Dan terkadang harus di tambah, karena saking marahnya, kita harus memalingkan muka, menghindar...dan ah.....Berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk semua itu? Dan hal ini semua, masih sering terabaikan dari benak kita...

Mari kita perhatikan hadits Imam Hakim dan Baihaqi di bawah ini;

Diceritakan dari Anas r.a. ia berkata: ketika kami berkumpul dengan Rasulullah s.a.w. tiba-tiba beliau tersenyum hingga tampak gigi depannya. Umar bin Khatab kemudian bertanya; ”Ya Rasulullah, apa yang membuatmu tersenyum?” beliau mejawab: ”Ada dua orang umatku yang berlutut di hadapan Allah, lalu salah satunya berkata; ”Ya Allah, biarkan kesalahan saudaraku yang pernah diperbuatnya kepadaku aku yang menanggungnya. Jangan Engkau bebankan kepadanya, ya Allah”

Allah berfirman; ”Bagaimana kau bisa berbuat demikian, sementara kau sendiri tak punya kebaikan sedikitpun”

Hamba itu menjawab, ”Ya Allah, hari ini hari yang agung; saat setiap orang mengharapkan kesalahan dan kejahatannya ada yang menanggungnya.”

Allah berfirman kembali; ”Angkatlah penglihatanmu wahai hamba, lihatlah di sana!”

Hamba itu lalu mengangkat pandangannya dan berkata, ”Ya Allah, aku melihat logam-logam emas berkilauan. Untuk anbi yang mana atau untuk orang syahid yang mana tempat ini, ya Allah?”

”Tempat ini bagi mereka yang membeli harganya” Firman-Nya

”Ya Allah, siapakah yang dapat membelinya?” Tanya hamba itu

Allah berfirman; “Kau dapat membelinya”

“Aku? Dengan apa aku dapat membelinya“ tanya ia terheran.

“Dengan memafkan dos dan kesalah saudaramu“

“Ya Allah, bagaimana dengan kesalahan saudaraku ini. Bukankan kesalahannya telah aku maafkan?“

“Kalau begitu, masuklah kau dan saudaramu ini kesurga yang tadi aku tunjukkan.“

Subhanallah......Sekarang, masihkah kita membenci mereka yang berbuat salah? Masihkah kita berlaga kita paling benar, bersikap keras dan acuh? Padahal, Nabi menjelaskan:

إِنّ اللهَ رَفِيْقُ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِيْ عَلَى الرِّفْقَ مَالاً لاَ يُعْطِيْ عَلَى العُنْفِ، وَمَا لاَ َيُعْطِيْ عَلَى مَا سِوَاهُ (رواه مسلم)

Sesungguhnya Allah itu lemah lembut dan mencintai kelembutan. Allah akan memberikan anugerah kepada kelembutan yang tidak diberikan kepada kekerasan, dan perkara yang tidak diberikan kepada yang lain.